Home Visit

Kegiatan Home Visit Guru BP/BK & Wali Kelas merupakan salah satu layanan pendukung dari kegiatan bimbingan dan
konseling yang dilakukan guru BK dengan mengunjungi orang tua/tempat tinggal siswa. Home
visit menurut Prayitno (2015:2) merupakan upaya untuk mendeteksi kondisi keluarga dalam
kaitannya dengan permasalahan anak atau individu yang menjadi tanggung jawab konselor
dalam pelayanan konseling. Dengan kegiatan pendukung akan diperoleh berbagai informasi atau
data yang dapat digunakan untuk lebih mengefektifkan layanan konseling dan dapat mendorong
partisipasi orang tua (dan anggota keluarga lainnya) untuk sebesar-besarnya memenuhi
kebutuhan anak atau individu yang bermasalah.

Senada dengan hal tersebut Tanthawi (1995:47) mengatakan bahwa home visit, yaitu
kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, dan kemudahan bagi terentaskannya permasalahan
siswa melalui kunjungan ke rumah siswa. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari
orang tua dan siswa. Home visit dilakukan setelah siswa memahami dan menyetujui kegiatan
tersebut.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan home visit yang
dilakukan guru BK adalah untuk mendapatkan data/keterangan mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan siswa, seperti kondisi rumah tangga, orang tua, fasilitas belajar, hubungan antar anggota
keluarga, sikap dan kebiasaan serta berbagai pendapat orang tua dan anggota rumah dilakukan
oleh beberapa keluarga lainnya terhadap siswa
Dalam hal ini Barr (1954:238) menyatakan:
Home visit are made as part ot the work of some members of the school staff. The home visitor, the school
nurse, the school physician, and the secondary school level agriculture and home economics teacher are
expected to make visit to the homes of the are students as a routine part of the school procedure. All the
individuals mention may provide valuable information for classroom teacher.
Kutipan diatas menyatakan bahwa home visitdilakukan sebagai bagian dari kerja reguler
beberapa staf sekolah, seperti pengunjung rumah, perawat sekolah, dokter sekolah, dan petugas
presensi (kehadiran) yang bisa mengunjungi rumah siswa sepanjang tahun ajaran. Semua staf
yang melakukan home visit akan memberikan informasinya yang sangat berharga kepada guru
kelas.
Pengertian di atas dapat diketahui bahwa home visit merupakan kegiatan yang dilakukan
oleh semua staf sekolah untuk mendapatkan informasi langsung mengenai keberadaan siswa dan
informasi itu sangat berguna bagi guru kelas atau guru BK dalam memahami permasalahan
siswa. Di dalam pelaksaaan home visit hendaklah dilakukan oleh guru BK yang telah dilatih secara
profesional. Sebagaimana Jane Warters (dalam Thantawi, 1995:45) menyatakan “home visit are most
likely to be effective when made by a professionally visiting teacher”. Dengan profesionalisme yang
dimiliki guru BK pelaksanaan home visit akan mempermudah mendapatkan data atau
keterangan siswa, sehingga guru BK dapat memberikan bantuan sesuai dengan permasalahan
yang dihadapi siswa.

Siswa yang mengalami permasalahan dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya
mempengaruhi prestasi belajar, baik itu permasalahan diri pribadi, sosial, belajar dan karir.
Permasalahan tersebut akan berkembang pada kepada permasalahan pribadi dan kelompok.
Konseling pribadi dan konseling kelompok merupakan layanan BK yang dilakukan guru BK
dalam memahami permasalahan. Permasalahan siswa dapat dilihat dari mana masalah itu datang,
baik itu dari hubungan dalam keluarga dan situasi keluarga. Masalah keluarga dan situasi
keluarga dapat mempengaruhi siswa di sekolah dalam hal konsentrasi belajar dan aktivitas
sekolah, sehingga mengakibatkan turunnya prestasi belajar siswa.
Banyaknya permasalahan yang dihadapi siswa diharapkan siswa dapat mengelola dirinya
secara baik sehingga ia dapat keluar dari kemelut permasalahannya. Sebagaimana yang
dinyatakan A. Muri Yusuf (2002:22) dalam kondisi yang bagaimanapun, titik pangkal
keberhasilan atau dapat keluar dari kemelut yang dihadapi adalah diri anda sendiri. Dari
pendapat ini dapat dipahami bahwa yang menyelesaikan permasalahan yang dialami siswa
adalah dirinya sendiri. Disinilah diharapkan guru BK dapat berperan serta dalam memberikan
bimbingan kepada siswa, sehingga timbul dalam diri untuk keluar dari permasalahan yang
dialaminya.
Menurut Prayitno (1997:15) membagi jenis-jenis masalah dapat dilihat dari (1) masalah
jasmani dan kesehatan, (2) masalah pribadi, (3) masalah hubungan sosial, (4) masalah ekonomi
dan keuangan, (5) masalah karir dan pekerjaan, (6) masalah pendidikan dan pengajaran, (7)

masalah agama, nilai, dan moral, (9) masalah keadaan dan hubungan dalam keluarga, (10)
masalah waktu senggang.
Jenis-jenis masalah satu dengan masalah yang lainnya. Misalnya, siswa-siswa mengalami
kesulitan dalam pengajaran tentu akan berpengaruh kepada masalah-masalah lain seperti, sosial,
pendidikan, pribadi, dan pekerjaan. Setiap jenis masalah membutuhkan cara dan jenis bimbingan
tertentu.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa banyaknya permasalahan yang dihadapi
siswa, menurut guru BK harus dapat memahami dan mengentasi permasalahan. Salah satu usaha
adalah dengan melakukanhome visit untuk mendapatkan data, keterangan, dan informasi yang
berguna dalam memahami dan mengentaskan masalah siswa. Permasalahan siswa yang dialami
siswa tidak semuanya memerlukan home visit, hanya permasalahan yang membutuhkan
pemahaman lebih jauh tentang suasana rumah atau keluarga, sesuai dengan pernyataan Prayitno
dan Erman Amti (2015:32) bahwa permasalahan siswa menyangkut kadar yang cukup kuat
peranan rumah atau keluarga saja yang memerlukanhome visit.
Hal ini bukan berarti pelaksanaan home visit tidak penting untuk dilaksanakan tetapi malah
sebaliknya, pelaksanaan ini sangat bermanfaat bagi siswa mengingat lingkungan keluarga sangat
berpengaruh terhadap perkembangan dirinya. Sebagaimana dinyatakan Rochman Natawijaya
(2001: 20) keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan diri individu
yang dapat dilihat dari:

1) status sosial ekonomi, keadaan ini mempunyai peranan terhadap
tingkah laku anak,

2) keutuhan keluarga, ketidakutuhan keluarga, ketidakutuhan keluarga akan
memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan kecakapan di sekolah atau tingkah laku
sosialnya,

3) sikap otoriter, demokratis, dan selalu melindungi atau memanjakan anaknya semua
sikap ini akan mempengaruhi kepribadian anak.

  1. Tujuan Home visit
    Tujuan dapat diartikan sesuatu yang ingin dicapai begitu pula dengan tujuan home visit.
    Winkel (1991:264) menyatakan bahwa home visit bertujan agar guru BK lebih mengenal lingkungan
    hidup siswa sehari-hari, khususnya bila informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh
    melalui angket atau wawancara. Pernyataan ini ditunjukan bahwa home visit tersebut dilakukan
    untuk memperoleh informasi tentang siswa serta keadaanya dirumah dan tempat tinggalnya
    apabila tidak diperoleh melalui angket ataupun wawancara terhadap siswa di sekolah.
    Menurut Thantawi (1995:47) menyatakan beberapa tujuan dari home visit, yakni :
    a. Untuk menambah kelengkapan data/ informasi tentang siswa memalui wawancara dengan
    orang tua, dan hasil observasi suasana di rumah.
    b. Memberi penjelasan tentang keadaan siswa kepada orang tua membangun kerja sama sekolah
    dan rumah.
    c. Mengembangkan tingkat kepedulian orang tua terhadap masalah anak.
    Sedangkan Sukardi (2000:83) menyatakan bahwa home visit yang dilakukan oleh guru BK
    mempunyai dua tujuan, pertama yakni memperoleh berbagai keterangan atau data yang
    diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan pemahaman siswa, kedua untuk pembahasan dan
    pemecahan permasalahan siswa.
    Sejalan dengan ini Prayitno (2006:3-4) juga melihat dua tujuan home visit, yaitu tujuan
    umum, yakni; diperolehnya data yang lebih digalangkannya komitmen orang tua dan anggota
    keluarga lainnya dalam rangka penanggulangan masalah klien. Yang kedua, tujuan khusus,
    yakni; dengan data yang lebih lengkap, dan mendalam dan akurat ini upaya pengentasan
    masalah klien akan dapat lebih intensif.

Dari pendapat-pendapat diatas dapat diketahui bahwa pelaksanaan home visit bertujuan
untuk memahami lingkungan tempat tinggal siswa dan permasalahan siswa yang dapat
mempengaruhi proses belajar.

(sumber : https://www.gci.or.id/assets/papers/jambore-konseling-3-2017-207.pdf)